Friday, December 04, 2009
CuplikAn
Ketika aku berjalan dalam keheningan, jalan yang sebenarnya ramai berdesakan para pejalan juga pengendara nampak tak terhiraukan. Tanpa sadar telah ribuan langkah ditepak oleh kedua kaki. Tidak tahu kemana arah dan tujuan, senantiasa semua tanpak hening dan terkadang memabukkan. Tiada yang hadir mengisi suasana perjalanan ini, langkah demi langkah dibuat secara tidak pasti. Elakan ke kanan dan ke kiri terasa menyejukkan tanpa sedikitpun terusik oleh kebisingan. Deru nafas pelan mulai mendesir kencang, hingga sejenak terpaksa kuhentikan langkah lemahku. Lalu ku rasakan sesak di dada, dan kucoba tuk bertahan dengan keadaan ini. Tak tahan sakitnya hingga spontan aku turun ke bawah, bersandar lutut kiri berpegang lepada aspal yang terasa basah akibat hujan beberapa waktu yang lalu. Udarapun juga menjadi lembab, tiada yang mengetahui jalanan selimut kabul tipis berwarna putih. Nafas yang terengah-engah tak goyahkan tekat untuk lanjutkan perjalanan tanpa arah ini. Tarik nafas dalam-dalam dan menahannya tuk beberapa saat kan membuatku lebih baik. Kemudian kembali berdiri kembali dan menjejakkan kaki dimulai dengan langkah kaki kanan untuk memulai perjalanan yang baru menuju suatu tempat yang mampu
menteramkan hati dan pikiran.

No comments:
Post a Comment